POTENSI KIRAB BUDAYA DESA JEMBRAK SEBAGAI IMPLEMENTASI PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5).

Desa mawa cara negara mawa tata merupakan ungkapan klasik dari tanah Jawa yang bermakna setiap daerah tentu mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan daerah lain. Ini pun tampak dalam hajat Desa Jembrak yang biasa disebut dengan Bersih Desa Jembrak kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang pada Minggu pagi, 27 Agustus 2023.

Kirab Budaya Desa Jembrak

Desa mawa cara negara mawa tata merupakan ungkapan klasik dari tanah Jawa yang bermakna setiap daerah tentu mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan daerah lain. Ini pun tampak dalam hajat Desa Jembrak yang biasa disebut dengan Bersih Desa Jembrak kecamatan  Pabelan Kabupaten Semarang pada Minggu pagi, 27 Agustus 2023.

Hajat tahunan itu dilaksanakan secara turun temurun dengan melibatkan semua komponen warga desa timur laut Salatiga dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah kirab budaya. Kirab budaya dilaksanakan masyarakat sedesa Jembrak dalam rangka upacara Bersih Desa/Merti Desa Jembrak, yang sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan  mengambil tema ”Kearipan Lokal menuju desa Wisata untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat”.

Kegiatan dimulai dari lomba kebersihan lingkungan seminggu sebelum hari H. Adapun kegiatan Kirab Budaya dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 27 Agustus 2023 tepat jam 07.00 WIB. Mereka berkumpul di tempat pemakaman yang di sana ada tokoh Kyai Jembrak, yang dipercaya sebagai cikal bakal penduduk Desa Jembrak. Beliau juga dipercaya sebagai pengembang sistem pertanian dan sekaligus penyebar agama Islam. Acara tahlil dan doa bersama sekitar makam Kyai Jembrak yang dihadiri oleh semua unsur pemerintahan di Desa Jembrak  dan Forkompimcam Pabelan. Hadir di antaranya Yudiyanta, S.H., Sekcam Pabelan dan Staf Trantib Nurudin Siwikrama.  

Kirab budaya dimulai setelah Pembacaan sejarah singkat Desa Jembrak oleh Sekretaris Desa, Sriyatun, A.Ma., Pust. kemudian  sambutan Kepala Desa, Sudarsono  dan dilanjutkan pelepasan kirab ditandai dengan pemotongan pita dan kibaran Bendera Merah Putih.

Menurut Suniadi, S.Pd. salah satu tokoh masyarakat Jembrak, peserta kirab berasal dari berbagai unsur pimpinan desa dan setiap dusun di Desa Jembrak, di antaranya Grompol, Ngerangan, Tegalsale, Godekan, dan Tegalsari. Juga unsur pendidikan di Jembrak yaitu SD Jembrak dan SPF SMP Negeri 2 Pabelan. Mereka start dari dari Makam Kyai Jembrak dan berakhir di Lapangan Desa Jembrak.

Kelompok Pertama pembawa spanduk MMT disusul 10 siswa Pembawa Bendera Merah Putih dari SMP Negeri 2 Pabelan yang dikawal dua pembina Supriyadi dan Latifah Nurul Aini, S.Pd.. Di belakang mereka selanjutnya adalah semua Perangkat Desa bersama istri dan atau suami yang dipandegani Kepala desa Jembrak. Tampak mereka sangat berwibawa dengan berseragam Gagrak Semarangan. Lalu disusul kelompok Kedua SD Negeri Jembrak dengan menampilkan prestasi yang dimiliki oleh SD Negeri Jembrak pimpinan Siti Azizah, S.Pd.

Kelompok Ketiga Dari Dusun Grompol. Mereka terdiri dari kaum muda, sampai lansia bersemangat mengikuti kegiatan dengan mengangkat kekhasan daerahnya. Mereka  menampilkan kearifan lokal berupa Kesenian Reog, gunungan berbagai hasil bumi yang ditata menyerupai tumpeng besar yang menarik. Juga berbagai macam Profesi yang dimilikinya. Mereka sangat terkoordinasi yang dipimpin oleh Nurkholis selaku Kepala Dusun Grompol.

Kelompok Keempat dari Dusun Ngerangan menampilkan kearifan lokal berupa Kesenian Kotekan bamboo yang dimainkan anak dan remaja, gunungan berbagai hasil bumi, berbagai macam Profesi dan penampilan jadul tahun 80/90-an yang dipimpin M. Arif Muslim sebagai Kepala Dusun.

Kelompok kelima dari Dusun Tegalsale menampilkan kearifan lokal berupa Kesenian Kotekan bambu, gunungan hasil bumi, berbagai macam Profesi dan penampilan sahabat petani meliputi replika Sapi dan ogoh-ogoh sawah. Ini menandakan bahwa di sekitar Tegalsale banyak terdapat peternk dan area persawahan yang perlu disyukuri karena  kehidupannya menjadi makmur. Kelompok kreatif juga ditampilkan melalui sajian yang lucu dan menghibur di bawah kordinasi Supriyadi sebagai Kepala Dusun Tegalsale.

Kelompok Keenam Dari Dusun Godegan menampilkan kearifan lokal berupa Kesenian Seni Prajuritan Turonggo Sakti dan dikreasi tarian oleh anggota PKK. Tidak semua dusun memiliki kelompok pelestrasi budaya ini. Tak salah dusun ini mengangkat kesenian yang mulai punah agar para generasi muda mau dan mampu melestarian budaya asli dari leluhurnya. Selain itu, tampak gunungan berbagai hasil bumi, berbagai macam profesi masyarakat  yang dikomandani Sriyono selaku Kepala Dusun Godekan.

Kelompok Ketujuh atau kelompok terakhir dari Dusun Tegalsari. Mereka  menampilkan kearifan lokal berupa Kesenian Dramblek yang di dalamnya terdapat siswa SMPN 2 Pabelan, sendratari, dan, kreasi baru, permainan tradisional anak anak, gunungan bermacam-macam hasil bumi, berbagai macam Profesi yang dipimpin oleh Ibu Purwaningsih sebagai Kepala Dusun.

Mereka menyusuri jalan di wilayah Jembrak melalui beberapa sudut desa sambil menghibur warga yang menyaksikan di sepanjang jalan menuju lapangan desa. Tak jarang suara riuh tanda kegembiraan warga melihat tingkah peserta kirab karena kelucuan dan keunikan mereka. Di antaranya, tingkah tokoh punakawan, pemuda era 1980-an dengan celana jean gombor dan rambut klimisnya. Juga ada, replika burung kasuari yang diperankan sangat lucu. Ada pula ibu-ibu yang masih berseragam SD, SMP, dan SMA yang tampak mereka bernostalgia.

Sesampai di lapangan desa, semua peserta kirab mengadakan pertunjukan di depan panggung kehormatan dengan durasi setiap kelompok 30 menit untuk memberikan sajian huburan masing-masing dusun. Mereka sangat antusias dengan hajatan setahun sekali itu. Upacara kirab ditutup dengan kenduri sebagai wujud syukur kepada Allah SWT dan doa bersama oleh semua peserta kirab dan pada puncaknya berebut gunungan dan makan bersama.

Rangkaian masih berlangsung hingga puncaknya berupa malam resepsi yang diadakan pertunjukan wayang kulit sehari semalam di tempat yang sama di Lapangan Sepak Bola Desa Jembrak oleh Ki dalang Joko Tholeh dengan Garengnya.

Banyak nilai pendidikan yang disampaikan dalam rangkaian Merti Desa Jembrak itu. Setidaknya ada dua yang harus selalu diingat dan tersampaikan. Pertama, melalui kegiatan Merti Desa, kita harus mensyukuri segala nikmat dan berkah dari Allah SWT. Terlebih dengan datangnya Kyai Jembrak yang telah menyebarkan ilmu agama Islam dan berbagai ilmu pertanian. Kedua, meneladani seamngat juang para pendahulu kita baik yang telah gugur merelakan nyawanya demi kemerdekaan dan kemakmuran negara kita pada umumnya dan masyarakat Jembrak pada khususnya. Hal itu penting karena berkat perjuangan pendahulu itulah, masyarakat Jembrak menjadi masyarakat yang lebih maju. Lebih-lebih desa ini hendak mewujudkan sebagai desa wisata yang mampu menyejahterakan masyarakatnya melalui potensi-potensi lokal yang dikembangkan.

Selain itu, Kirab Budaya Desa Jembrak ini juga dapat dijadikan salah satu model dalam Program Kokurikuler di sekolah dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Hal itu sangat kontekstual karena para siswa dengan tema projek Kearifan Lokal msalnya dapat secara langsung learning by doing dalam kegiatan Kirab Budaya bersama komponen masyrakat Jembrak di sana. Kirab Budaya Jebrak mampu menghadirkan suasana gotong royong, keikhlasan, rela berkorban, toleransi,  kerja sama, kreatifitas, yang dilandasi keimanan dan ketakwaan setiap warga yang beragam. Tak hanya tataran teoretis belaka. Namun, mereka langsung mempraktikkannya. 

Dirgahayu NKRI!

Sejahtera Jembrakku!


Sigit Setyo Atmoko-Suniadi

Komentar
Siti Azizah
Siti Azizah
29 Agustus 2023 13:27:30

Bagus sekali pak Sigid..inspiratif sekali..smg bermanfaat bg kita semua

AHLUL
Pico Wijaya
23 September 2023 12:22:15

@Siti Azizah, terimakasih

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

AGENDA
LINK TERKAIT