Tumbuh Kembang Anak Tanpa Kekerasan, Mungkinkah?

FGD Tumbuh Kembang Anak Tanpa Kekerasan diselenggarakan berlangsug semarak di aula SMPN 2 Ungaran, Rabu 10 Agustus 2022

Sambutan Wakil Bupati H Basari pada FGD

Bertermpat di aula SMPN 2 Ungaran, Fokus Group Discusion (FGD) bertema Tumbuh Kembang Anak Tanpa Kekerasan berlangsung menarik. Kegiatan yang digagas oleh Forum Komunikasi Wartawan Kab Semarang itu menghadirkan tokoh berkompeten sebagai nara sumber antara lain, Kadisdikbudpora, Kepala Dinas PPA & KB, LPAI. Sedangkan peserta terdiri dari kepala sekolah negeri se-Kabupaten Semarang dan dimoderatori Mas Elwin dari Radio Rasika Ungaran.

Aditya Bayu selaku Ketua FKW Semarang sangat prihatin dan berharap tindak kekerasan erhadap anak dapat diminimalisir, bahkan dapat dihilangkan. Beberapa kasus terakhir seorang siswa sekolah tega membunuh teman sekolahnya sendiri gara-gara ponsel. Untuk itulah kepedulian akan hal itu juga sebagai alasan diselenggarakannya FGD ini.

Acara tersevut dibuka oleh Wakil Bupati Semarang Bapak Basari. Dalam sambutannya selain berpesan agar sekolah menjadi rumah perdamaian kedua setelah rumahnya, perlu menciptakan komunikasi positif antara KS guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Beliau juga membacakan sambutan Bupati Semarang yang berhalangan hadir karena kegiatan lain yang bersamaan.

Pembicara pertama adalah Sukaton Purtomo Priyatmo, S.H. M.M yang menyampaikan kondisi yang memprihatinkan atas kasus kekerasan anak yang terjadi di lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan memiliki peraturan tata tertib yang sangat perlu untuk dibudayakan agar pencegahan sejak dini dan mengatur hal-hal yang dapat meminimalisir tindakan kekerasa dan bulying di sekolah. Termasuk diperlukannya pola keteladanan di sekolah untuk anak didik.

Materi kedua dari LPAI, Samsul Ridwan sebagai putra daerah juga menyampaiakan keprihatinannya atas kasus-kasus kekerasan terhadap anak. Beliau berpesan agar komunikasi dan deteksi dini sangat perlu dilakukan sekolah untuk meminimalisir aksi yang sering mencoreng nama baik institusi. Sekolah diharapkan sebagai tempat yang justru menjadi benteng agar tidak ada tindakan kekerasan, bullying, dan lainnya. Berdasarkan pengalamannya sebagai aktivis pusat terhadap perlindungan anak, beliau juga menyampaikan bahwa pelaku indak kekerasan biasanya justru sering berasal dari orang-oran di sekitar anak itu sendiri. 

Sementara itu, pembicara ketiga Ibu Dewi Pramuningsih, M.Pd. sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan KB Kab Semarang juga menyampaikan agar permasalahan perlindungan anak menjadi persoalan yang sensitif dan perlu segera upaya penanganan. Selain itu beliau menekankan pentingnya orang tua termasuk guru untuk memahami konsep pengasuhan positif. Mantan Kadisdikudpora itu merasakan dinamika yang di emban memimpin dinas berbeda etelah dinas pendidikan, dinas pariwisata, dan akhrnya berlabuh di dinas PPPA&KB. Setelah kurang lebih 3 jam lebih. acara diakhiri sekiar pukul 13.30an.

AGENDA
LINK TERKAIT