Amanat Bunga Matahari Ibu Tria Septi Sulistyorini Sentuh Hati Peserta Upacara SMPN 2 Pabelan

"Tuhan memanggilmu bukan untuk disukai semua orang, tetapi untuk bersinar meski seringkali cahayamu membuat yang lain menjadi gelisah."

PABELAN – Pelaksanaan upacara bendera di SMP Negeri 2 Pabelan pada Senin, 3 Agustus 2026 pagi berlangsung dengan tertib dan khidmat. Guru SMPN 2 Pabelan, Ibu Tria Septi Sulistyorini, bertindak sebagai pembina upacara dan menyampaikan amanat yang menyentuh hati.

Berbeda dari biasanya, Ibu Septi membawa setangkai bunga matahari ke lapangan upacara sebagai media visual untuk mengajak siswa belajar tentang kehidupan. Beliau menyampaikan amanat bertema “Bunga Matahari dan Orang-Orang yang Menjadi Cahaya dalam Hidup Kita”.

Filosofi Bunga Matahari dan Momen Haru Menyanyikan "Gala Bunga Matahari"

Dalam amanatnya, Ibu Septi menjelaskan kebiasaan unik bunga matahari yang selalu berusaha tumbuh menghadap ke arah datangnya cahaya.

"Kalau bunga matahari membutuhkan cahaya agar bisa tumbuh, maka manusia juga memiliki 'matahari' dalam kehidupan. 'Matahari' itu adalah orang-orang yang setiap hari memberi kasih sayang, doa, perhatian, dan pengorbanan agar kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik," tutur Ibu Septi.

Poin-poin penting yang ditegaskan dalam amanat meliputi:

●     Menghargai Sosok Pendukung: "Matahari" dalam hidup siswa bisa berupa ayah, ibu, atau keluarga lain seperti kakek, nenek, paman, maupun bibi yang berjuang membiayai sekolah. Mematuhi dan menghargai mereka akan menjaga hati tetap lembut.

●     Respon Hati dan Sikap Diri: Nilai dan masa depan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi latar belakang keluarga maupun pandangan meremehkan dari orang lain. Mengutip pandangan Steve Jobs, beliau mengingatkan para siswa untuk memegang kontrol penuh atas sikap hati yang benar serta fokus pada perjuangan diri.

●     Ungkapan Terima Kasih: Beliau mengimbau seluruh siswa untuk menyempatkan diri mengucapkan "terima kasih" kepada orang tua atau wali yang merawat mereka sewaktu pulang sekolah nanti.

Suasana upacara menjadi semakin haru dan syahdu ketika Ibu Septi mengajak seluruh siswa menyanyikan bersama lagu “Gala Bunga Matahari”. Lantunan lagu tersebut menjadi momen refleksi mendalam bagi para peserta upacara untuk mengingat kembali jasa dan kasih sayang orang-orang yang menjadi "cahaya" dalam hidup mereka.

Mengakhiri amanatnya, Ibu Septi berpesan, "Tuhan memanggilmu bukan untuk disukai semua orang, tetapi untuk bersinar meski seringkali cahayamu membuat yang lain menjadi gelisah."

 

TSS

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

AGENDA
LINK TERKAIT