Kurikulum mempunyai tantangan yang berat, hal yang harus dilaksanakan adalah para guru belajar secara mandiri melalui Paltfrom Merdeka Mengajar. Hal yang bisa dilakukan untuk mengahadapi tantangan pendidikan adalah dengan mengubah pola pikir menuju inovasi yang sangat bermanfaat. Guru juga harus bisa terampil menggunakan teknologi informasi serta mempunyai niat yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Selain dari sumber daya manusia yang baik, sarana prasarana juga harus diperhatikan dalam me
Tim Pengembang Kurikulum bersama Bapak Pengawas
Perencanaan
program pelatihan kurikulum merdeka. Pengawas bisa berkolaborasi dengan
narasumber lain untuk memperkuat pemahaman sekolah binaan. Pengawas memiliki
peran dalam implementasi kurikulum merdeka sebagai fasilitator. Pengawas dapat
memfasilitasi kegiatan perencanaan program pelatihan kurikulum merdeka.
Pengawas bisa berkolaborasi dengan narasumber lain untuk memperkuat pemahaman
sekolah binaan.
Guna
menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan, peran Pengawas Pendidikan menjadi
sangat penting karena untuk mengontrol, menilai dan mengevaluasi jalanya proses
pendidikan menjadi tugas dan wewenang pengawas. Dengan demikian pembinaan
pendidikan yang dicapai suatu lembaga pendidikan merupakan pencerminan bahwa
lembaga tersebut dikelola dengan baik. Karena peranan pengawas sekolah
merupakan penggerak dalam meningkatakan sumber daya sekolah terutama pendidik
dan peserta didik. Pengawas sekolah bertanggung jawab untuk membina dan
mengawasi jalannya proses pendidikan. Pendidik atau guru dibimbing dalam
kegiatan supervisi pendidikan. Sehingga proses pendidikan berlangsung kondusif
dan efektif, serta menghasilkan peserta didik dan bermutu dan berkualitas.
Kurikulum
mempunyai tantangan yang berat, hal yang harus dilaksanakan adalah para guru
belajar secara mandiri melalui Paltfrom Merdeka Mengajar. Hal yang bisa
dilakukan untuk mengahadapi tantangan pendidikan adalah dengan mengubah pola
pikir menuju inovasi yang sangat bermanfaat. Guru juga harus bisa terampil
menggunakan teknologi informasi serta mempunyai niat yang kuat untuk berubah
menjadi lebih baik. Selain dari sumber daya manusia yang baik, sarana prasarana
juga harus diperhatikan dalam mendukung terciptanya inovasi pendidikan yang
maksimal. Kurikulum merdeka mampu menghadirkan kebaruan-kebaruan yang
ditunggu-tunggu praktisi dan pegiat pendidikan inklusi.
Pada
kunjungan bapak pengawas kemarin, bapak Rahmat Dhoni Wiryatmo, S.Pd., M.Pd.
membahas tentang pendidikan inklusi. Namun tantangan mulai terlihat pada tahap
implementasi (dokumen dan asesmen pembelajaran) yang sangat diperlukan pendidik
dalam membelajarkan peserta didik berkebutuhan khusus di kelas inklusi.
Padahal, inti dari pemenuhan hak belajar begaimana peserta didik berkebutuhan
khusus dapat mengakses elemen dan capaian pembelajaran pada setiap mata
pelajaran yang diajarkan di kelas. Patut digaris bawahi, implementasi
pembelajaran di kelas inklusif yang kompleks bukan semata-mata domain pendidik
saja. Kerangka (framework), pendekatan, dan strategi pembelajaran yang
tepat dalam membelajarkan peserta didik berkebutuhan khusus di kelas inklusi
mesti tersedia sehingga pendidik memahami tahapan yang dilakukannya. Selain
itu, memastikan dukungan sumber daya kolaboratif yang membawa keberhasilan
belajar bagi semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.
Ketentuan
modifikasi kurikulum, asesmen diagnostik sebagai rujukan penyusunan program
pembelajaran individual, dan keluwesan pendidik menentukan kegiatan
pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik bukan tergolong terobosan baru
dalam prinsip dan solusi pembelajaran di kelas inklusi. Esensi pendidikan
inklusi menekankan penumbuhan benefit sosial seperti keterikatan atau
keterlibatan (engagement), memperlancar akses belajar dengan beragam cara
(multiple ways), dan pemanfaatan teknologi terkini (emerging tehnology) yang
mempermudah akses belajar.
Penguatan
pendidikan inklusi melalui peningkatan profesionalisme bagi sekolah
penyelenggara pendidikan inklusi mulai menggeliat dari tingkat pusat sampai
daerah. Sejumlah daerah ada memulai sesi pelatihannya dari kepala sekolah, guru
bimbingan konseling, guru pembimbing khusus (GPK) secara bertahap. Untuk di
SMPN 2 Pabelan, guru yang sudah mengikuti pelatihan tersebut yaitu ibu Tria Septi
Sulistyorini, S.Pd dan beliau juga sekaligus guru BK.