Pelaksanaan Projek 2 P5 dari Sudut Pandang Siswa “Nguri-uri Anyaman Bambu itu Sulit.”

(Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) bertema: Kearifan Lokal dengan subtema Nguri-uri Anyaman Bambu sebagai Kearifan Lokal selama delapan hari (23 Oktober 2023 s.d. 1 November 2023, minus hari Minggu) ini, siswa diajak dan diberi kesempatan untuk membuat aneka besek (besek besar/besek sabun dan besek kecil/besek berkat) dan keranjang ikan (ikan pindang), serta menerima wawasan tentang makanan dan minuman tradisional, yang sangat beragam (baik macam maupun bahannya).

Doc

        Dalam pelaksanaan Projek 2 P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) bertema: Kearifan Lokal dengan subtema Nguri-uri Anyaman Bambu sebagai Kearifan Lokal selama delapan hari (23 Oktober 2023 s.d. 1 November 2023, minus hari Minggu) ini, siswa diajak dan diberi kesempatan untuk membuat aneka besek (besek besar/besek sabun dan besek kecil/besek berkat) dan keranjang ikan (ikan pindang), serta menerima wawasan tentang makanan dan minuman tradisional, yang sangat beragam (baik macam maupun bahannya).

         Selama beraktivitas, para siswa bergelut dengan irat bambu yang dianyam menjadi aneka besek dan keranjang ikan. Ada yang riang dan cekatan, tetapi ada pula yang gelisah dan lambat selama bekerja. “Ternyata nguri-uri anyaman bambu itu sulit yaa..”, kata mereka yang merasa kesulitan. Ada tiga dugaan yang menyebabkan kegelisahan mereka ini. Pertama, mereka apriori karena sudah bosan melihat besek dan keranjang ikan di lingkungan tinggalnya. Kedua, mereka tidak terampil atau tidak memiliki skill menganyam bambu, dan.. ketiga, mereka merasa enggan atau malas menganyam bambu.  Ketiga hal inilah yang diduga menyebabkan mereka tidak tertarik membuat besek dan keranjang ikan.  

         Dari LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) terungkap fakta tentang beberapa hal, yang antara lain seperti berikut. Sebagian siswa merasa kesulitan dalam membuat besek dan keranjang meskipun sudah dibantu fasilitator, guru, dan teman-temannya. Sebagian siswa lagi menyatakan bahwa yang mengerjakan tugas membuat besek dan keranjang hanya sebagian kecil anggota kelompok. Sementara, anggota kelompok yang lain, khususnya laki-laki tidak mau mengerjakannya. “Mereka pada malas dan cuma titip nama.”. Dalam hal pemberian masukan untuk kegiatan serupa pada masa mendatang, sebagian siswa memberikan usulan agar membuat produk yang mudah-mudah saja. Ada di antara mereka yang memberikan masukan agar pada projek-projek berikutnya, guru lebih mengondisikan kelas karena dalam kenyataannya sering terjadi jam kosong dalam pelaksanaan Projek 2.

         Dalam pengamatan penulis, banyak irat yang tersisa dan menjadi sampah pada setiap harinya setelah siswa membuat aneka besek dan keranjang ikan. Dan, pada akhir projek semua produk siswa dimasukkan ke dalam kantung-kantung plastik besar lalu disimpan ke dalam gudang.

             Ada catatan penting dalam pelaksanaan Projek 2 (yang sangat mungkin juga terjadi dalam projek-projek lainnya). Pertama, dalam setiap aktivitas siswa, siswa hanya terfokus mengerjakan tugas-tugas yang sesuai dengan tema dan subtema projek.Tidak ada unsur-unsur mata pelajaran lain (selain Prakarya) yang tampak dan dipelajari siswa. Sementara, para guru (selain mapel Prakarya) secara umum hanya menjadi Pengawas dan secara sporadis menjadi fasilitator. Tidak ada ilmu yang tercurahkan selama projek berlangsung selama delapan hari itu. Kedua, sebagian siswa merasa senang karena mereka bisa merasakan suasana pembelajaran yang berbeda, ada unsur bermain, dan ada kegiatan sosialisasi antarmereka dan antara mereka dengan guru dan pegawai. Namun, sebagian siswa merasakan mereka kurang puas dengan aktivitas yang dilakukannya karena hanya mendapatkan “satu atau dua menu pelajaran” selama delapan hari sehingga merasa ada banyak waktu yang terbuang. Hal ini ditambah dengan fakta adanya jam-jam yang kosong. Ketiga, sebagian siswa dan guru juga kecewa bahwa produk yang dijadikan fokus adalah besek dan keranjang ikan. Sesuatu yang menurut mereka teramat sederhana, kurang menantang, dan kurang bernilai. Apalagi fasilitator yang didatangkan mereka anggap kurang komunikatif. “Sebenarnya, akan lebih menarik kalau yang dibuat siswa adalah produk kerajinan bambu yang memiliki nilai lebih, baik dari aspek artistik maupun aspek ekonomis, seperti: membuat produk seni dari akar bambu, membuat perabot rumah atau kantor dari bambu, dan sebagainya.” ujar sebagian dari mereka. 

             Sebagian guru dan siswa berharap agar pada projek-projek berikutnya bisa lebih dimantapkan tentang tema dan subtema projek serta keefisienan dan keefektifan pelaksanaan projek. Semoga ekspektasi mereka kelak bisa menjadi kenyataan. (Antonius Sapto Yunarso, S.Pd. – November 2023)

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin

AGENDA
LINK TERKAIT